Sound of Borobudur sendiri digagas Trie Utami, Dewa Bujana, Redy Eko Prasetyo dan kawan-kawannya. Adapun alat musik yang dimainkan dengan sebuah komposisi khusus yang diharapkan mampu mewujudkan orkestrasi bunyi dawai dan tiup seperti pada masa tahun 750 Masehi. Untuk di relief Candi Borobudur terdapat 23 alat musik yang ada, namun baru 3 yang bisa dibuat yakni dawai yang diberi nama Gasona, Solawa dan Gasola.
“Baru tiga alat musik yang dibuat. Itu pun idenya sebetulnya di luar yang semula direncanakan. Ini baru tanggal 20-an Oktober pada tengah malam di rumah Mas Kimpling, baru sadar bahwa kenapa kita tidak bikin,” ujar I,ik panggilan akrab Trie Utami.
Direktur Utama Taman PT Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC), Edy Setijono mengatakan, Borobudur Cultural Fest 2016, merupakan perayaan Hari Raya Kebudayaaan Borobudur. Kegiatan yang dilangsungkan pertama kali melibatkan seluruh unsur masyarakat yang ada di kawasan Borobudur dengan 20 desa yang terlibat.
“Kegiatan BCF 2016, upaya bersama dari TWC bersama sinergi BUMN, kemudian kami mendapatkan suport yang luar biasa dari teman-teman Tim Jaringan Kampung (Japung) Nusantara. Kami mencoba membangkitkan kembali yang kita sebut sebagai gotong rotong, hidup rukun, gemah ripah loh jinawi. Alhamdulillah melalui program yang dijalankan, teman-teman Japung yang diberi nama sonjo kampung telah mampu membangkitkan kembali kepercayaan diri kita semua tentang kebesaran dari Borobudur,” jelas Edy.
Perihal Soung Of Borobudur, Edy menjelaskan bahwa di relief terdapat alat musik yang digunakan masyarakat pada abad 7.
“Teman Japung membuat satu karya luar biasa berupa komposisi instrumen, alat yang digunakan adalah alat yang juga digunakan masyarakat pada abad 7,” ungkapnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik Kawasan dan Pariwisata I Kementerian BUMN, Hendrika Nora O Sinaga, menegaskan, dalam pengembangan pariwisata khususnya di Candi Borobudur, BUMN melakukan pendampingan terhadap pembangunan Balai Ekonomi Desa (Balkondes). Kemudian, pihaknya mendorong di Candi Borobudur melakukan 3A yakni Aksesibilitas/akses, Atraksi dan Amenitas.
“Aksesibilitas merupakan satu hal yang bisa menghubungkan tempat lain ke destinasi pariwisata baik laut, udara maupun darat. Inilah yang sekarang sedang kita bangun bersama BUMN,” tandasnya.(zis)
Tidak ada komentar: